in

Stafnya Komentari Curhatan Pasien di Facebook, Humas RSUD Maros Minta Maaf

NgakakOnline.id – Seorang petugas RSUD Salewangang, Rizka Abady keberatan dengan adanya keluhan warga terkait pelayanan medis, yang dinilai tidak becus. Aksi protes tersebut diunggah ke akun facebook miliknya, Rizka Abady (Mutmainna Inna), beberapa waktu lalu.

Rizka protes setelah adanya warga maros, Sutri Utami mengeluhkan layanan medis RSUD Salewangang, setelah ibu kandungnya, Razmawati tidak dilayani pada Jumat 30 November lalu.

“Lucu yah, pake gratisan aja belagu. Sok bikin heboh pula. Komplainnya udah ngelunjak parah. Kalau mau berobat ke Awal Bros atau Siloam gih. Disana pelayannya keren abiz. Tapi dompetnya ditebalin dulu,” tulis pemilik akun Rizka.

Aksi protes dari Rizka mendapat komentar dari berbagai warganet. Ada yang setuju dan menilai Rizka memandang remeh warga kurang mampu, Selasa (10/12/2018).

Salah satu warganet yang protes Rizka yakni Suci Endang Lestari.

“Hati saya betul-betul tergugah. Tiba-tiba tangan saya dingin, dada sesak. Mungkin banyak warga miskin seperti kami yang menggunakan BPJS. Mereka semua ingin kembali sehat setelah datang ke Salewangan. Tapi kami malah disuruh ke RS yang lebih baik dan dihina dengan harus menebalkan dompet dulu,” tulis Suci

“Padahal kami warga Maros bayar pajak dan berhak menikmati fasilitas publik juga. Termasuk fasilitas layanan kesehatan,” lanjut Suci.

Plt Kepala RSUD Salewangang, Maryam Haba saat dikonfirmasi melalui ponsel, tidak merespon. Sebelumnya, Sutri mengaku kecewa setelah menunggu selama dua jam. Namun tiba-tiba disuruh pulang oleh petugas lantaran dokternya sudah pulang. Satri mengatakan, Senin (2/12/2018) ia mengantar ibu kandungnya ke RSUD Salewangang, untuk mengikuti terapi, akibat penyakit yang dideritanya.

Saat itu, Satri dan ibunya tiba di RSUD Salewangang sebelum pukul 9.00 wita. Mereka mengambil nomor antrean dan mengantre. Namun saat gilirannya untuk diterapi, Satri dan ibunya dipanggil. Tapi malah diminta untuk pulang oleh petugas loket. Alasannya, ada pemberitahuan dari petugas terapi.

“Jelas kami sangat dirugikan. Sudah mengantre dua jam, tapi tidak dilayani. Kami dipanggil, tapi hanya untuk diminta pulang. Makanya kami merasa kaget dan kecewa,” katanya.

Pelayanan tidak maksimal tersebut, merupakan kali kedua dialami oleh Satri. Sebelumnya, Satri diminta pulang dengan alasan sistem online rumah sakit sedang bermasalah. Saat itu, Satri menerima saat diminta pulang. Padahal, saat itu petugas terapi diduga berbohong. Petugas yang menangani sistem prosedur online, malah mengaku tidak ada masalah.

Satri kemudian komplain, namun ia diminta mengirim pesan pengaduan ke nomor ponsel yang tersedia.

“Tapi saya tidak kirim SMS. Saya fikir itu tdak efektif. Kebetulan saya bertemu
teman dan menceritakan apa yang saya alami. Saya diarahkan datang langsung ke tempat pengaduan,” katanya.

Saat tiba di kantor RSUD Salewangang, Satri kemudian menyampaikan keluhannya. Selanjutnya petugas aduan menelepon petugas loket. Tidak lama kemudian, Satri ditinggal sendirian ruang pengaduan. Kemudian muncul lagi petugas lainnya dan mempertanyakan keperluan Satri.

“Setelah saya jelaskan, petugas itu meminta saya ke ruang Humas. Saya kemudian mengukuti petunjuk. Tapi masih saja tidak ada solusi,” katanya.

Petugas Humas malah menyalahkan petugas bagian loket. Padahal, Satri hanya mencari solusi atas kasus yang dialaminya. Sutri melanjutkan, selama empat bulan berobat, ibunya sudah memiliki Surat Eligibilitas Peserta (SEP) yang menjadi syarat.

“Kami juga sudah punya SEP. Itu persyaratan supaya ibu bisa diterapi. Memang sekarang, aturannya sudah berbeda. Kami diwajibkan menggunakan rujukan online sejak 1 November,” katanya.

Seharusnya pihak rumah sakit tidak mencari kesalahan pasien. Tim medis wajib memberikan pelayanan maksimal dan nyaman kepada pasien.

Keluarga pasien lainnya, Herman juga mengeleuhkan layanan medis RSUD Salewangang. Selasa lalu, Herman menganta keluarganya ke UGD Salewangamg karena sakit perut.

Hanya saja, selama berada di UGD pasien hanya diinfus oleh perawat saja. Tidak satupun dokter yang muncul atau memeriksa keseharan pasien.

Melihat kondisi tersebut, Herman terpaksa mengeluarkan keluarganya dan membawanya ke RSUD Salewangang.

“Masa tidak ada dokter tidak datang memeriksa. Saya cari dokter di ruang Poli, tidak ada dokter. Makanya saya suruh keluar dan membawanya ke Makassar,” katanya.

Saat tiba di Makassar, pasien langsung dioperasi lantaran dinilai sudah mulai kritis. Jika tidak segera ditangani, nyawa pasien terancam. Dia berharap, Pemkab Maros membenahi pelayanan RSUD Salewangang, yang tidak becus.

Sumber : tribunnews.com

RECOMMENDED

Jalan Protokol Gubeng Ambles, di Surabaya Menjadi Viral

Tak Ada Itikad Baik, Pemilik Anjing Pitbull Serang Satpam Dilaporkan ke Polisi

Aksi Kopassus TNI Bikin Jenderal AS Kagum dan Viral di Luar Negeri

Halo Ngakakonlinelovers!! Agar tetap up to date dengan kiriman ngakakonline, jangan lupa susbcribe fanspage kita ya. caranya seperti gambar dibawah ini –>>

Kunjungi juga gambarlucu.biz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Jalan Protokol Gubeng Ambles

Jalan Protokol Gubeng Ambles, di Surabaya Menjadi Viral

Anak Teriak dari Dalam Peti Mati

Viral, Mau Dikuburkan Si Anak Teriak dari Dalam Peti Mati